Rabu, November 12, 2008

Lafadz Allah di Belahan Terung Hijau



KEAJAIBAN Tuhan bisa terjadi di mana saja, termasuk kala musibah. Ada awan panas, jilatan api, dan riak ombak yang membentuk lafadz Allah. Tempat ibadah yang kubahnya diukir lafadz Allah tidak hancur meski sekelilingnya hancur lebur diserbu tsunami.

Samuel Johnson Sutanto, anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, dalam sebuah situs menunjukkan hasil bidikannya, Kamis 14 Desember 2006, di kantor Timnas di Somerset Apartemen, Surabaya. Samuel menjepret jilatan api ledakan pipa gas Pertamina di lumpur Lapindo berkali-kali. Salah satunya yang ditunjukkan adalah jilatan api berlafadz Allah.

Dan, masih banyak lagi kemunculan lafadz Allah di berbagai daerah dengan media beraneka macam. Seperti terlihat dalam buah-buahan, daun, ranting, pohon, bahkan juga dalam awan yang membentang di angkasa.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Garut. Warga Kampung Pasirsalam, Desa Haruman, Kecamatan Leles, baru-baru ini dihebohkan dengan ditemukannya potongan buah terung hijau (Solanaceae) bertuliskan lafadz Allah dalam huruf Arab.

Iis Winarti (24), sang penemu terung tersebut, kini masih menyimpannya dengan baik. Ia pun telah mengabadikan keajaiban itu lewat foto kamera ponsel dan telah mencetaknya.

Saat ditemui di rumahnya, Kampung Pasirsalam RT 02/RW 03, Desa Haruman, Kecamatan Leles, Selasa (11/11), Iis begitu bersemangat menuturkan ihwal penemuan terung itu. Ia mengaku awalnya sangat terkejut saat menemukan potongan buah terung bertuliskan lafadz Allah. Pikirannya terus diliputi berbagai pertanyaan.

Terlebih jika ia teringat akan mimpinya yang cukup mengerikan pada malam sebelum ia mendapatkan terung aneh itu. "Entah apa maksud mimpi itu. Mungkin ini semacam pertanda bagi saya atau keluarga saya," ujarnya.

Iis lalu mengisahkan tentang mimpinya. Pada Minggu (9/11) malam, ia bermimpi ada banjir bandang setinggi lutut menerjangnya, disusul datangnya gelombang air setinggi rumah yang langsung menghancurkan seluruh bangunan rumah yang ada dan semua penghuninya. Mirip peristiwa tsunami di Aceh. Mayat-mayat pun, tuturnya, terlihat bergelimpangan.

Dalam mimpi itu, Iis tengah berdiri menyaksikan semua peristiwa menegangkan tersebut dengan ditemani dua anak kecil laki-laki dan perempuan berusia tiga tahun. Yang laki-laki berada di sebelah kanannya, dan yang perempuan di sebelah kirinya.

Anehnya, saat sebuah gelombang besar hendak menggulungnya, tiba-tiba gelombang tersebut terhenti. Bahkan kembali surut lagi ke belakang. Ini terjadi berbarengan dengan terdengarnya lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibisikkan anak lelaki yang ada di sebelah kanannya.

Ketika itulah, Iis terbangun dari tidurnya. Setelah mengucap istigfar dan takbir serta tasbih dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar kecil. Ia sempat melihat jam tangan yang jarumnya menunjukkan pukul 01.00. Setelah hatinya agak tenang, ia pun kembali tidur.

Keesokan paginya, seperti biasa, Iis mengurus pekerjaan rumah. Ia menyiapkan anaknya berangkat ke sekolah sekitar pukul 07.00. Saat itu, Iis teringat akan bingkisan buah terung hijau pemberian sang ibu, Entin Kartinah (39), yang diberikan kepadanya pada Jumat (7/11). Ada enam terung dari ibunya, hasil memetik dari kebun tersebut. Iis saat itu hendak memasak oseng terung dengan cabai hijau.

Iis lalu mengambil sebuah terung dan membelahnya menjadi dua potong. Potongan yang satu langsung diiris-iris dan dimasukkan ke wadah. Entah mengapa, kata Iis, saat itu dirinya penasaran ingin melihat belahan terung satunya lagi yang belum diiris-iris.

Betapa terkejutnya Iis ketika dilihatnya, pada belahan terung tersebut terdapat rangkaian biji yang membentuk tulisan Allah dalam huruf Arab. Tulisan Allah itu tak lain adalah biji-biji terung yang membaris dan membentuk lafadz Allah. Warna biji-biji itu terlihat kuning kehitaman, kontras dengan warna daging buah terung yang keputih-putihan.

"Saat itu saya berteriak Allahu Akbar dan langsung menanyakannya ke Mamah (Entin Kartinah, Red). Apa maksudnya? Mungkinkah ini pertanda?" kata Iis terharu.
Ia berharap peristiwa tersebut merupakan pertanda baik bagi dirinya dan keluarga. Apalagi ia juga sering bangun salat tahajud dan meminta petunjuk dari Allah, terutama terkait ekonomi keluarganya yang belum mapan.

Maklum, suaminya, Dodi Haryadi (34), tak memiliki pekerjaan tetap. Sementara kebutuhan kedua anaknya, Sani (7) dan Nisa (3), terus bertumbuh. Di Kampung Pasirsalam pun, Iis dan suami serta kedua anaknya masih tinggal bersama dengan mertuanya, Isong Kusnadi (71), seorang pensiunan TNI.

Karena penasaran kalau-kalau terung yang lainnya juga ada tulisan lafadz Alloh, Iis membelah lima buah terung lainnya satu per satu. Namun tak satu pun terdapat tulisan seperti pada terung sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, berita penemuan terung aneh itu menyebar. Warga pun berdatangan karena penasaran ingin melihat terung tersebut. Di antara mereka bahkan ada yang ikut-ikutan mencari dan membeli terung dan membelahnya untuk melihat apakah di dalamnya ada tulisan lafadz Allah atau tidak. Seperti dilakukan Popon (56), warga setempat. Sejumlah terung miliknya dibelah tapi ia tak mendapatkan tulisan lafadz Allah pada semua terungnya.

Penasaran dengan penemuannya itu, Iis mengabadikan belahan terung bertuliskan lafadz Allah itu dengan kamera ponsel miliknya. Ia juga langsung mencetak foto terung tersebut dalam kertas foto berukuran sekitar 10 R. Sementara belahan terung aslinya ia simpan dalam sebuah wadah tertutup plastik di dapur rumah. "Kalau saya punya kulkas, tentu akan saya simpan di kulkas," katanya.

Iis menyebutkan, belahan terung tersebut hendak disimpan sebaik mungkin. Iis senantiasa berdoa bahwa lewat peristiwa ini mudah-mudahan Allah memberikan hikmah kepada dirinya dan keluarganya.

Source : tribunjabar.co.id

Kamis, Oktober 16, 2008

Malaikat Pelindung

Suatu hari, ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka, ia bertanya kepada tuhan. “ Ya Tuhan, engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tidak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana ?”.

Tuhanpun menjawab. “Diantara semua malaikat-Ku, aku akan memilih seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawatmu dan mengasihimu.” Si kecil bertanya lagi, “Tapi, disini, di surga ini, aku tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia. Tuhanpun menjawab, “Tak apa, malaikatmu itu, akan selalu menyenandungkan lagu untukmu, dan ia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan semua itu pasti akan membuatmu bahagia.” Namun si ekcil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?”


Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu itu, akan membisikkan kata-kata yang paling indah, dia akan selalu sabar disampingmu, dan dengan kasihnya, dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia.” Si kecil bertanya lagi , “ Lalu, bagaimana jika aku ingin bertanya padamu, ya Tuhan ?”

Tuhanpun kembali menjawab, “Tenang, Malaikatmu, akan terus melindungimu, walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia akan sering melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.” Namun, si kecil kini malah bersedih, “ Ya Tuhan, tentu akan sedih jka tak melihat-Mu lagi,”

Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkanmu keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu, bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu, akau akan selalu disisimu. “

Hening. Kedamaianpun tetap menerpa surga. Namun, suara-suara panggilan dari bumi terdengar senyap-senyap. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku.”

Tuhanpun kembali menjawab.” Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan Ibu.”


Rabu, Juli 02, 2008

Untukmu Tersayang....

Untuk … tersayang

Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1

Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua
Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang

Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yan

Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90o < x < 270o)

Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya

BY
Bobotoh cepel Crew

Kamis, Juni 19, 2008

Tentukan Tujuan Hidup

"Without goals, and plans to reach them, you are like a ship
that sail with no destination" -- (Fritzhugh Dodson)

Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya tujuan dalam
hidupnya.

Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu arah hidup
yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup adalah apa yang
kemudian dilakukannya. Bila sesuatu hal buruk terjadi,
mereka akan berdalih nasib tak berpihak padanya.

Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan hidupnya pada
usia tua. Sangat disayangkan memang.

Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan dalam
hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya
perubahan tersebut... hingga akhirnya tujuan hidupnya
tidak tercapai!


Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah tujuan
hidup beberapa kali. Hal yang terpenting adalah setiap saat
kita mempunyai tujuan hidup yang ingin dicapai. Setidaknya
kita tahu ke mana kita akan berjalan dan strategi apa yang
harus diambil.

5 Cara Yang Bisa Kita Pakai Untuk Menetapkan Tujuan Hidup:

1. Tanyakan pada nurani Kita, apa sebenarnya keinginan
Kita untuk beberapa tahun ke depan? Tidak ada salahnya
Kita bermimpi. Kita tidak perlu malu mengakuinya,
lagipula, tokh tidak ada biaya yang harus Kita keluarkan
untuk sekedar bermimpi. ;-)

2. Kumpulkan informasi yang bisa membantu Kita untuk bisa
mencapai tujuan tersebut. Jika ada orang lain yang sudah
berhasil melakukan yang Kita inginkan, belajarlah dari
mereka. Lakukan apa yang mereka kerjakan!

3. Jangan hanya diam, lakukan sesuatu dan secara terus
menerus yang akan membawa Kita pada impian hidup.

4. Jika cara yang Kita lakukan terbukti efektif dan
mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai, maka alangkah
baiknya jika Kita berusaha untuk meningkatkan
kemampuan dan menambah kecepatan kerja agar tujuan hidup
Kita lebih cepat tercapai.

5. Jika hal di atas Kita lakukan secara terus menerus
tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah Kita akan mendapatkan
tujuan hidup yang diinginkan.

Kita ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas gambaran
kehidupan Kita sendiri. Dan seorang pemahat yang baik akan
selalu memiliki 'planning' terlebih dahulu untuk
mendapatkan hasil yang terbaik.

Dalam hal ini, Kita pun hanya bisa sebesar dan sebahagia
sebagaimana tujuan yang telah Kita tentukan. Oleh sebab
itu, pahatlah diri Kita dengan sebaik-baiknya!

SOURCE : AsianBranNewsLetter


Sponsor